Did you find this article interesting?

Merawat Orang Tua

Di Amerika lebih dari 10 juta anggota generasi sandwich harus merawat orang tua mereka sembari bekerja dan membesarkan anak-anak. Gambaran serupa bisa Anda saksikan di seluruh dunia. Maklum, makin banyak orang yang menunda pernikahan demi mengejar karier. Alhasil, di usia paruh baya mereka menanggung beban ganda: merawat orang tua yang mulai lanjut usia dan anak-anak yang sedang tumbuh.

Jujur saja, tidak mudah menjadi orang tua untuk orang tua Anda sendiri. Masyarakat kita masih mengaitkan tanggung jawab seseorang dengan kematangan fisiknya. Tidak mudah juga memastikan kapan Anda harus mulai berganti peran, dari anak jadi orang tua. Kadang terjadinya tanpa sadar, bahkan tanpa Anda inginkan. ”Posisi” terbalik itu nyatanya berat untuk sebagian besar orang.

Tapi hari ini, mengingat makin banyak ayah dan ibu yang hidup hingga usia 80-an atau bahkan 90-an, merawat mereka adalah keharusan, bukan pilihan. Anda mungkin harus melakukannya sendiri. Kalau lebih beruntung, Anda bisa berbagi beban dengan adik atau kakak. Apa pun kisah Anda, perawatan orang tua berusia lanjut kemungkinan besar tertoreh di dalamnya kelak. Atau mungkin sekarang?

Masih ada pula tantangan tambahan akibat mobilitas di abad ke-21 ini. Keluarga Anda mungkin terpisah-pisah oleh jarak, mulai dari Australia, Asia, hingga Amerika. Ada pula yang tinggal di negara yang sama tapi berbeda kota.

Bayangkan skenario berikut. Anda buru-buru berangkat ke kantor atau mengantar anak-anak ke sekolah. Tak lama, ayah Anda menelepon. Suaranya panik menahan tangis. Ternyata ibu Anda baru terjatuh, dan baru dilarikan ke UGD!

Ayah Anda butuh Anda segera datang ke rumah sakit. Tapi lokasinya jauh dari tempat tinggal Anda. Untuk mencapainya, Anda butuh berkendara beberapa jam, atau bahkan naik pesawat. Biaya perjalanan dan pengobatan bisa mencapai jutaan rupiah.

Mereka yang lanjut usia bertubuh lebih rapuh; terpeleset sedikit saja bisa patah tulang. Kalau skenario serupa terulang lagi dan lagi, bisa-bisa hancur segala yang sudah Anda rencanakan untuk keluarga Anda.

“Saya termasuk generasi sandwich. Orang tua saya menikah terlambat, kemudian ayah saya meninggal. Saat saya berusia 30-an, ibu jatuh sakit, dan saya bersama saudara perempuan merawatnya selama 3 tahun sebelum beliau akhirnya meninggal dunia. Sungguh masa yang sangat berat untuk kami semua.”

- Seorang blogger, pengakuan dan penderitaan generasi sandwich

Orang Tua Butuh Anda secara Keuangan? Bisa Ya, Bisa Tidak

Hubungan Anda dengan orang tua bisa berada di dua sisi yang saling berseberangan. Sebagian orang tua punya sedikit tabungan, yang lain malah sama sekali tidak pernah bisa menyimpan uang. Alhasil, mereka andalkan hidup mereka pada anak-anak mereka, terutama dengan alasan fisik dan keuangan. Kalau orang tua Anda menderita penyakit kronis dan menjalani perawatan di rumah sakit hingga lama, dampaknya bisa sangat memberatkan keuangan Anda.

Mungkin juga orang tua Anda pensiun dengan keuangan mandiri. Mereka tidak butuh pendapatan tambahan tiap bulan, tapi Anda mungkin ingin tetap memberikannya lantaran cinta dan terima kasih. Sewaktu-waktu Anda mengalami kesulitan dan tidak bisa memberi ”uang jajan” bulanan itu, Anda bisa memangkasnya tanpa cemas.

Kalaupun orang tua Anda berada di kategori kedua, bersiaplah menghadapi perubahan situasi yang tidak pernah bisa diduga. Ya, mereka mandiri secara keuangan. Ya, mereka bisa merawat diri sendiri. Tapi tetap saja, mereka bisa sakit sewaktu-waktu, dan saat itu mungkin situasinya menyulitkan. Mereka mungkin tidak punya asuransi. Atau punya asuransi, tapi karena alasan apa pun tidak bisa mengklaim kovernya. Atau, investasi yang mereka andalkan untuk hari-hari susah sedang jatuh nilainya akibat kemerosotan pasar. Segala kemungkinan itu bisa terjadi, tapi bisa pula diantisipasi.

1.  Kumpulkan semua fakta. Hindari kejutan. Bahas dengan ayah dan ibu bagaimana posisi keuangan mereka. Mintalah angka-angka, jangan mau terima begitu saja kalimat, ”Kami baik-baik kok.” Tanyakan apa rencana yang sudah mereka rancang, andai mereka jatuh sakit atau tidak mampu lagi menjalani hidup seperti biasa. Pelajari keuangan Anda sendiri, ukur seberapa jauh sumber-sumber yang Anda miliki bisa membantu orang tua saat mereka butuh.

2.  Rancang prosedur darurat. Dalam situasi darurat, Anda tentunya butuh kuasa legal untuk bertindak–atas nama ayah atau ibu–mengurus keuangan maupun persoalan lain. Pastikan mereka membuat dan menyimpan surat kuasa yang memberi seseorang–Anda, adik, atau kakak–wewenang untuk menandatangani cek, membayar beragam tagihan, dan membuat keputusan penting untuk hidup mereka. Isu ini boleh jadi sensitif untuk sebagian besar orang tua. Saat Anda ”menginterogasi” soal keuangan, mungkin saja mereka melihatnya sebagai kelancangan. Maklumilah. Perlahan yakinkan mereka bahwa yang Anda inginkan hanyalah kebaikan, supaya mereka tetap nyaman menjalani hari-hari tua.

3.  Pertimbangkan segala skenario, termasuk yang kurang menyenangkan. Hambatan keuangan terbesar untuk para lansia adalah perawatan jangka panjang. Biaya panti jompo yang layak, fasilitas pendukung alat bantu (misalnya akses kursi roda di rumah), atau perawatan dengan suster di rumah bisa mencapai ratusan juta rupiah per tahun. Atau bahkan miliaran rupiah! Kalau investasi dan asuransi orang tua Anda tidak memadai untuk segala kebutuhan itu, duduklah bersama mereka dan bahas–dari hati ke hati–opsi-opsi yang lebih terjangkau.

Mencegah Selalu Lebih Baik ketimbang Mengobati

Kondisi medis serius kerap bisa dicegah atau dirawat dengan efektif kalau terdeteksi sejak dini. Jangan sampai Anda kaget mendengar kabar dari dokter, orang tua Anda sakitnya parah! Coba bantu mereka supaya tetap sehat, baik fisik maupun psikis.

  • Waspadai perubahan. Kunjungi ayah dan ibu–di rumah mereka ataupun di panti jompo–secara rutin. Amati perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Apakah makanan mendadak lenyap dari kulkas? Adakah tumpukan tagihan di meja yang lupa mereka bayarkan? Kenali tanda-tanda yang tidak biasa, biasanya menunjukkan sesuatu yang tidak beres telah terjadi.
  • Jangan diam hingga krisis terjadi. Banyak penyakit serius yang bermula dengan gejala-gejala yang tampak tidak berbahaya, seperti sakit kepala yang timbul tenggelam, atau noda di kulit yang terus membesar. Amati orang tua Anda, waspadai gejala yang muncul. Untuk menjauhkan demensia dan gangguan terkait, pastikan orang tua Anda tetap sibuk. Orang lebih cepat menua kalau tidak beraktivitas.
  • Jaga komunikasi. Jalin komunikasi yang baik dengan orang tua dan saudara-saudara Anda, terutama mereka yang merawat orang tua sehari-hari. Dengan begitu adanya masalah lekas terdeteksi.

Saat Merawat Orang Tua Terasa Berat…

Kita belajar dari orang tua kita, sama halnya anak-anak kita belajar dari kita. Bagaimana kita memperlakukan orang tua berdampak besar terhadap bagaimana anak-anak memperlakukan kita di masa mendatang. Ingatlah ini saat tanggung jawab Anda merawat orang tua berusia lanjut terasa begitu membebani. Hidup berputar bagai roda. Hari ini Anda merawat. Esok mungkin Anda yang butuh dirawat.

Komentari Tulisan